Category Archives: Mujtama’

Pilihan Politik di Tengah Kebohongan Publik: Individu vs. Gagasan

Celakanya, masalah ini juga menghinggapi mereka yang mengaku berpendidikan tinggi.

Salah satu masalah mendasar kita dalam politik adalah keberpihakan berdasarkan INDIVIDU, bukan GAGASAN.

Sebagian orang sudah tidak lagi mencerna nilai dan visi untuk kemudian menentukan ‘mengapa’ dan ‘siapa’ yang didukungnya. Yang terjadi justru sebagian orang menentukan siapa yang akan didukung lalu mencari-cari alasan secara selektif agar bisa membenarkan pilihannya itu.

Lamat-lamat kita “belajar” terbiasa dengan kebohongan publik akibat pertanggungjawaban yang terabaikan. Alih-alih menuntut agar pejabat publik membuat kebijakan berbasis pengetahuan, sebagian orang justru bersorak riang atas pernyataan pejabat tanpa bukti.

Sumber yang konon berasal dari laporan intelijen itu juga kian absurd sebab intelijen bekerja tanpa pertanggungjawaban publik. Dengan begini budaya hoax makin bisa makin terlembagakan. Pemerintahan yang korup cuma bisa tegak di atas rakyat yang mau dibodohi! 😡

Celakanya, masalah ini juga menghinggapi mereka yang mengaku berpendidikan tinggi. Ini yang menjelaskan, misalnya, sebagian akademisi dan aktivis masyarakat sipil yang dulu dikenal memperjuangkan prinsip-prinsip pemerintahan demokratis dan berorientasi reform kini mulai balik badan dengan mendukung politisi dan pejabat publik yang tindak-tanduknya berlawanan dengan prinsip dan orientasi yang dulu diperjuangkannya itu.

Susah-payah kawan-kawan ini menelikung idealismenya sendiri agar bisa senada dengan tindak-tanduk individu yang sudah terlanjur didukungnya. 😑

Maka respect saya setinggi-tingginya atas sebagian kawan yang mulai menyadari masalah mendasar ini lalu memberi pencerahan kepada yang lainnya. Salut!

Bukan Umat Lapar Broadcast & Posting Coppas

Mereka paham betul, jika arus aspirasi umat tidak bisa dibendung dan diredam, membelokkannya menjadi cara terbaik.

Saudara-saudara semua, mari kembalikan kepada kesadaran kita. Terlalu overload jk kita hanya menyerap info Broadcast & “coppas” (copy-paste) berita ini-itu, termasuk dari yang tak jelas sumber awalnya, apalagi kalau kita forward kembali ke orang lain.

Supaya tidak overload, pemikiran masing-masih sebaiknya direfleksikan, berikan saluran dalam bentuk tulisan. Menulis in syaa Allah akan menertibkan gagasan, mengikat ilmu. Dengan begitu umat ini punya harga diri dan tidak dibelokkan isu sana-sini.

“Orang lain” paham betul kelemahan sebagian orang muslim: belum selesai dengan nalar dirinya sendiri; belum bisa beranjak dari sekadar membudayakan membaca dengan tertib dan seksama; apalagi menulis dengan hujjahnya sendiri.

Mereka paham betul, jika arus aspirasi umat tidak bisa dibendung dan diredam, membelokkannya menjadi cara terbaik.

Misalnya, begini, kekaguman kita pada sang Panglima TNI saat ini jangan sampai mudah dibelokkan menjadi isu pencalonan beliau sebagai presiden dsb. Fokus saja dengan si penista agama beserta kinerjanya yg penuh paradoks kontraproduktif. Pun, jangan mencukupkan pada amunisi isu penistaan al-Quran saja. Lebarkan juga kritikan tajam atas kinerjanya sebagai kepala daerah. Jangan pula mudah diinisiasi ke arah pemakzulan Presiden Jokowi. Itu bisa menjadi bumerang sekaligus mengagalkan fokus kita.

… disematkan predikat “anjing kelaparan” yg melahap semua isu …

Jadi, menulislah. Berpikir dan tuangkan argumen lalu diskusikan dgn sejawat, adu dengan pihak lain agar bisa lebih matang teruji; untuk kemudian punya bekal dan beroleh kesempatan meyakinkan kalangan yg masih bersikap abu-abu. In syaa Allah.

Mudah-mudahan kita tidak menyia-siakan energi, pikiran, waktu, quota internet, dsb, hanya untuk membahas isi broadcast dan “coppas” berita lainnya. Mudah-mudahan kita semua di sini tidak termasuk yang layak disematkan predikat “anjing kelaparan” yg melahap semua isu dan mengunyah-kunyah apa saja. Tabik.