Tag Archives: Khulafaur rasyidin

Dari Dinasti Tang ke Dinasti Ming: Peran Umat Islam dalam Peradaban Tiongkok

Menarik sekali kala rehat bisa menyimak ilustrasi dari bacaan kita mengenai sejarah klasik, misalnya sejarah Dinasti Tang (lihat klip video di bawah) yang tumbuh seiring dengan masa Khulafa-ur Rasyhidin, dan pernah menjadi tempat suaka politik sebagian pejabat Persia setelah khilafah membebaskannya (futuhat). Umat Islam punya peran dalam mewarnai dinamika peradaban Tiongkok.
Continue reading Dari Dinasti Tang ke Dinasti Ming: Peran Umat Islam dalam Peradaban Tiongkok

Sebaik-Baik “Syi’ah”

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, ‘Aisyah, dan Muawiyah.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Abu Bakr ash-Shiddiq bin Abi Quhafah; yang paling utama dipercaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai urusan; yang menjadikan opini Ali bin Abi Thalib sebagai pertimbangan kunci dalam memilih Umar bin al-Khaththab sebagai khalifah pengganti; yang putera-putrinya menyokong Ali bin Abi Thalib dalam mengorganisasi gerak sisa-sisa umat Islam yang masih tersisa di Makkah saat musim gelombang hijrah di Madinah; yang namanya dijadikan salah satu nama putera Ali bin Abi Thalib.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Umar bin al-Khaththab; yang menyambut kedatangan hijrah Ali bin Abi Thalib di perbatasan terluar Madinah; yang diberi endorsement oleh Ali bin Abi Thalib sebagai kandidat khalifah pengganti Abu Bakr; yang menjadikan opini Ali bin Abi Thalib sebagai pertimbangan kunci dalam pengelolaan administrasi provinsi Syam dan Iraq secara lebih advanced; yang puteranya (Abdullah bin Umar) berkali-kali mengingatkan Husein bin Ali bin Abi Thalib agar tidak berangkat ke Kuffah; yang namanya dijadikan salah satu nama putera Ali bin Abi Thalib.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Utsman bin Affan; yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suami kedua puteri beliau; yang berkali-kali mengalah kepada Ali bin Abi Thalib dari pencalonan khalifah pengganti Umar bin al-Khaththab; yang namanya dijadikan nama salah satu putera Ali bin Abi Thalib.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah A’isyah binti Abi Bakr; isteri Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibunda orang-orang beriman; yang Ali bin Thalib ikut membersihkan nama baiknya di kala badai hoax ditiupkan golongan munafik di Madinah; yang sebelum Perang Jamal meletus masih mengupayakan tabayyun kepada Ali bin Thalib perihal tewasnya Utsman bin Affan.

Sebaik-baik “syi’ah”  adalah Muawiyyah bin Abi Sofyan; yang memberikan perlindungan keamanan penuh beserta tunjangan hidup bagi keluarga Hussein bin Ali bin Abi Thalib pasca-peristiwa Karbala meletus.

Demikianlah, jika dikembalikan pada makna aslinya, “syi’atun Ali” adalah justru mereka yang berada di atas as-Sunnah, sebaik-baiknya menyokong Ali bin Thalib beserta ahlul-bayt tanpa harus memberikan privilege kekeluargaan berlebihan, apalagi sampai harus melaknat khulafa-ur Raasyidiin dan Ummul Mu’minin Aisyah, terlebih jika menggeser posisi Ali bin Abi Thalib dari bingkai kemanusiaan ke bingkai kerasulan. Subhanallah!