Tag Archives: Khulafaur rasyidin

Sebaik-Baik “Syi’ah”

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, ‘Aisyah, dan Muawiyah.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Abu Bakr ash-Shiddiq bin Abi Quhafah; yang paling utama dipercaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai urusan; yang menjadikan opini Ali bin Abi Thalib sebagai pertimbangan kunci dalam memilih Umar bin al-Khaththab sebagai khalifah pengganti; yang putera-putrinya menyokong Ali bin Abi Thalib dalam mengorganisasi gerak sisa-sisa umat Islam yang masih tersisa di Makkah saat musim gelombang hijrah di Madinah; yang namanya dijadikan salah satu nama putera Ali bin Abi Thalib.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Umar bin al-Khaththab; yang menyambut kedatangan hijrah Ali bin Abi Thalib di perbatasan terluar Madinah; yang diberi endorsement oleh Ali bin Abi Thalib sebagai kandidat khalifah pengganti Abu Bakr; yang menjadikan opini Ali bin Abi Thalib sebagai pertimbangan kunci dalam pengelolaan administrasi provinsi Syam dan Iraq secara lebih advanced; yang puteranya (Abdullah bin Umar) berkali-kali mengingatkan Husein bin Ali bin Abi Thalib agar tidak berangkat ke Kuffah; yang namanya dijadikan salah satu nama putera Ali bin Abi Thalib.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah Utsman bin Affan; yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suami kedua puteri beliau; yang berkali-kali mengalah kepada Ali bin Abi Thalib dari pencalonan khalifah pengganti Umar bin al-Khaththab; yang namanya dijadikan nama salah satu putera Ali bin Abi Thalib.

Sebaik-baik “syi’ah” adalah A’isyah binti Abi Bakr; isteri Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibunda orang-orang beriman; yang Ali bin Thalib ikut membersihkan nama baiknya di kala badai hoax ditiupkan golongan munafik di Madinah; yang sebelum Perang Jamal meletus masih mengupayakan tabayyun kepada Ali bin Thalib perihal tewasnya Utsman bin Affan.

Sebaik-baik “syi’ah”  adalah Muawiyyah bin Abi Sofyan; yang memberikan perlindungan keamanan penuh beserta tunjangan hidup bagi keluarga Hussein bin Ali bin Abi Thalib pasca-peristiwa Karbala meletus.

Demikianlah, jika dikembalikan pada makna aslinya, “syi’atun Ali” adalah justru mereka yang berada di atas as-Sunnah, sebaik-baiknya menyokong Ali bin Thalib beserta ahlul-bayt tanpa harus memberikan privilege kekeluargaan berlebihan.